Senin, 08 April 2019

Pengertian Lingkaran dan Persamaan Garis Singgung Lingkaran


Persamaan Garis Singgung Lingkaran

1.        Pengertian Lingkaran
Definisi lingkaran dinyatakan oleh Nuharini, 2015: 138 menyatakan “Lingkaran  adalah kurva tertutup sederhana yang merupakan tempat kedudukan titik-titik  yang berjarak sama terhadap suatu titik tertentu. Jarak yang sama tersebut disebut  jari-jari lingkaran dan titik tertentu disebut pusat lingkaran”.

Gambar 2.1
2.      Persamaan Lingkaran dengan Pusat di O(0, 0)

Gambar 2.2
Jika titik Q(x, y) terletak pada lingkaran yang berpusat di O, maka berlaku:
OQ = jari-jari lingkaran. Dengan menggunakan rumus jarak titik O(0, 0) ke titik Q(x, y)  diperoleh:
r2 = (xQ- 0)2 + (yQ- 0)2
r2  = xQ2 + yQ2
Jadi persamaan lingkaran dengan pusat O(0, 0) dan berjari-jari adalah:
x2 + y2 = r2
3.      Persamaan Lingkaran Berpusat di Titik P(ab)

Gambar 2.3
Jika titik P(a, b) adalah pusat lingkaran dan titik Q(x, y) terletak pada lingkaran, maka jari-jari lingkaran r sama dengan jarak dari P ke Q.
r = jarak P ke Q
r2 = (PQ)2
r2 = (xQ – xP)2 + (yQ – yP)2
r2 = (x – a)2 + (y – b)2
Jadi persamaan lingkaran yang berpusat di (a, b) dan berjari-jari r adalah (xa)2 + (yb)2 = r2
Berdasarkan persamaan lingkaran dengan pusat (a, b) dan berjari-jari r adalah:
(xa)2 + (yb)2 = r2
x2 – 2ax + a2 + y2 – 2by + b2 = r2
x2 + y2 – 2ax – 2by + a2 + b2 = r2
x2 + y2 – 2ax – 2by + a2 + b2 - r2 = 0
Jika –2a = 2A, –2b = 2B dan a2 + b2 -  r2 = C, maka diperoleh bentuk umum persamaan lingkaran:
x2 + y2 + 2Ax + 2By + C = 0, di mana pusatnya (–A, –B)
4.      Kedudukan Titik dan Garis terhadap Lingkaran
Posisi Titik P(x1y1) terhadap Lingkaran x2 y2r2
1) Titik P(x1y1) terletak di dalam lingkaran, jika berlaku x12 + y12 < r2.
2) Titik P(x1y1) terletak pada lingkaran, jika berlaku x12 + y12  = r2.
3) Titik P(x1y1) terletak di luar lingkaran, jika berlaku x12 + y12 > r2..
Posisi Titik P(x1y1) terhadap Lingkaran (– a)2 + (– b)2 = r2
a.    Titik P(x1y1) terletak di dalam lingkaran, jika berlaku (x1 – a)2 + (y1 – b)2 < r2.
b.    Titik P(x1y1) terletak pada lingkaran, jika berlaku (x1 – a)2 + (y1 – b)2 = r2.
c.    Titik P(x1y1) terletak di luar lingkaran, jika berlaku (x1 – a)2 + (y1 – b)2 > r2.
Posisi Garis mx terhadap Suatu Lingkaran
Jika persamaan garis mx disubstitusikan ke persamaan lingkaran
x2 + y2 +2Ax + 2By = 0 diperoleh persamaan:
x2 + (mx n)2 +2Ax + 2(mx n) + = 0
x2 + mx2 + 2mnx n2 +2Ax + 2Bmx + 2Bn = 0
(1 + m2)x2 + (2mn + 2+ 2Bm)+ (n2 + 2Bn C) = 0
D = (2mn + 2+ 2Bm)2 – 4 (1 + m2) (n2 + 2Bn C) = 0

Gambar 2.4
Maka ada tiga kemungkinan posisi garis terhadap suatu lingkaran yaitu:
1)      Jika D < 0, maka persamaan garis mx + n terletak di luar lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By = 0, dan tidak memotong lingkaran atau jarak pusat lingkaran ke garis lebih dari jari-jari lingkaran (r).
2)      Jika D = 0, maka persamaan garis mx + n terletak pada lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By = 0 dan memotong lingkaran di satu titik atau jarak pusat lingkaran ke garis sama dengan jari-jari lingkaran (r).
3)      Jika D > 0, maka persamaan garis garis mx + n terletak di dalam lingkaran x2 + y2 + 2Ax + 2By = 0, dan memotong lingkaran di dua titik atau jarak pusat lingkaran ke garis lebih kecil dari jari-jari lingkaran (r).
5.      Persamaan Garis Singgung di Titik (x1y1) pada Lingkaran x2y2r2
Garis singgung menyinggung lingkaran x2y2r2 di titik P(x1y1) karena OP  garis l.
mOP . ml = –1
Persamaan garis singgungnya pada lingkaran x2 y2r2 di (x1y1) adalah x1x + y1y = r2
6.      Persamaan Garis Singgung Melalui Titik (x1y1) pada Lingkaran (x – a)2 + (y – b)2 = r2 adalah  (x1 – a) (x – a) + (y1 – b) (y – b) = r2
7.      Persamaan Garis Singgung Melalui Titik Q(x1y1) pada Lingkaran x2 y2 + 2Ax + 2By + C = 0
Dari persamaan garis singgung melalui titik Q(x1y1) pada lingkaran (xa)2 +(y – b) 2 = r2 adalah:
(x1 – a) (x – a) + (y1 – b) (y – b) = r2
x1x – ax– ax + a2 + y1yby1 – by + b2 = r2
x1x – a(x1 + x) + a2 + y1y b(y+ y) + b2 = r2
x1x + y1ya(x1 + x) – b(y1 + y) + a2 + b2 – r2 = 0
Misalnya A = –a, B = –b, dan C = a2 + b2 – r2, persamaannya menjadi:
x1x + y1ya(x1 + x) – b(y+ y) + a2 + b2 – r2 = 0
x1x + y1y + A(x1 + x) + B(y1 + y) + C = 0
Maka persamaan garis singgung melalui Q (x1y1) pada lingkaran x2 y2 + 2Ax + 2By + C = 0 adalah  x1x + y1y + A(x1 + x) + B(y1 + y) + C = 0.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Facilitator and Explaining (SFAE)


Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Facilitator and Explaining (SFAE)

a.    Model Pembelajaran Kooperatif
1.    Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif menurut Tukiran (2012: 55) adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesame siswa dalam tugas-tugas yang kooperatif. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih sekedar belajar kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interpendensi efektif di antara anggota kelompok.
2.        Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pada dasarnya manusia mempunyai perbedaan, dengan perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh (saling mencerdaskan). Dengan pembelajaran kooperatif diharapkan saling menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya terpaku belajar pada guru, tetapi dengan sesama siswa juga.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi untuk menghindari terjadinya ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.
3.        Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
Di dalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang berkaitan, yaitu:
a.         Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan atau yang biasa disebut dengan saling ketergantungan positif yang dapat dicapai melalui : saling ketergantungan mencapai tujuan, saling ketergantungan menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan peran, saling ketergantungan hadiah.
b.        Interaksi tatap muka
Dengan hal ini dapat memaksa siswa saling bertatap muka sehingga mereka akan berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru tetapi dengan teman sebaya juga karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah belajarnya dengan teman sebaya.
c.         Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan,maksudnya yang dapat mengajarkan kepada temannya. Nilai kelompok tersebut harus didasarkan pada rata-rata, karena itu anggota kelompok harus memberikan kontribusi untuk kelompnya. Intinya yang dimaksud dengan akuntabilitas individual adalah penilaian kelompok yang didasarkan pada rata-rata penguasaan semua anggota secara individual.
d.        Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial dalam menjalin hubungan antar siswa harus diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru juga siswa lainnya.
4.        Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif  berbeda dengan kelompok konvensional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif menurut Slavin dalam Tukiran (2012: 60) adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu :
a.         Hasil Belajar Akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b.        Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c.         Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
b.        Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE)
1.        Pengertian Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE)
Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) adalah model pembelajaran dimana siswa mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta lainnya (Aqib, Zainal: 28). Pada model pembelajaran ini siswa belajar bicara menyampaikan ide dan gagasan. Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) termasuk dalam kategori Pembelajaran Aktif. Kata “Aktif” dalam Pembelajaran Aktif  berarti pembelajaran yang menumbuhkan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya dan mengemukakan gagasannya. Dengan menggunakan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) ini siswa diharapkan dapat berinteraksi dalam proses pembelajaran dan keaktifan siswa mampu diperbaiki.
Model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) merupakan salah satu metode pembelajaran yang menekankan bahwa belajar berpusat pada siswa. Model ini memanfaatkan potensi siswa untuk dapat menjelaskan materi yang telah diajarkan oleh guru. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Model ini menjadikan siswa sebagai fasilitator dan diajak berpikir secara kreatif sehingga menghasilkan pertukaran informasi yang lebih mendalam dan lebih menarik serta kreatif, sehingga menghasilkan pertukaran informasi yang lebih mendalam dan lebih menarik serta menimbulkan rasa percaya diri pada siswa untuk menghasilkan karya yang diperlihatkan kepada teman-temannya. Dengan demikian pembelajaran siswa tidak hanya mendengarkan dan guru hanya menerangkan di depan kelas saja. Namun diperlukan keaktifan siswa di dalam pembelajaran, sehingga hasil dari proses pembelajaran menjadi lebih baik.
2.        Langkah-langkah Pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE)
a)      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai/KD (Kompetensi Dasar).
b)      Guru mendemonstrasikan atau menyajikan garis-garis besar materi pembelajaran.
c)      Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada siswa lainnya, misalnya melalui bagan atau peta konsep. Hal ini bisa dilakukan secara bergiliran
d)     Guru menyimpulkan ide atau pendapat dari siswa.
e)      Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu.
f)       Penutup (Aqib, Zainal : 28).
c.         Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE)
Kelebihan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE)
Siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain, dapat mengeluarkan ide-ide yang ada dipikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut.
Kekurangan Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE) adalah adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil dan banyak siswa yang kurang aktif.
d.        Tujuan Student Facilitator and Explaining (SFAE)
Terdapat tiga tujuan Pembelajaran Kooperatif yaitu :
1.        Hasil Akademik
Pembelajaran Kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan khusus dari teman sebaya, yang mempunyai orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses tutorial ini, siswa kelompok atas akan meningkatkan kemampuan akademiknya karena memberi pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.
2.      Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Efek penting yang kedua dari Model Pembelajaran Kooperatif adalah penerimaan yang luas terhadap orang berbeda ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan.
3.      Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan penting ketiga dari Pembelajaran Kooperatif ialah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Pembelajaran matematika dengan cooperative learning dapat meningkatkan daya nalar dan daya pikir anak serta dapat mengurangi kegiatan menghafal. Anak dapat merasakan bahwa berpikir lebih baik dari pada menghafal sehingga mereka akan lebih termotivasi dalam kegiatan belajar mengajar matematika. Coopertive learning yang meningkatkan hubungan kerjasama antar teman memacu anak untuk semakin maju dan bekerja keras dan hasil dari cooperative learning akan membantu masyarakat untuk mendapatkan seorang yang bekerja keras dan dapat bekerja sama.
e.         Prinsip Model Student Facilitator and Explaining (SFAE)
Pembelajaran kooperatif Student Facilitator and Explaining (SFAE) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
Salah satu model pembelajaran adalah untuk memperbanyak pengalaman serta meningkatkan motivasi belajar yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE). Dikatakan dari hasil penelitiannya bahwa dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat meningkatkan antusias, motivasi, keaktifan dan rasa senang siswa dapat terjadi. Sehingga sangat cocok di pilih guru untuk digunakan pada pembelajaran bahasa. Karena pada model Student Facilitator and Explaining (SFAE) atau bermain peran ini suatu cara penguasaan siswa terhadap beberapa ketrampilan diantaranya ketrampilan berbicara, menyimak, pemahaman pada teks bacaan, maupun ketrampilan lainnya. Selain itu dapat meningkatkan antusias, motivasi, keaktifan, dan rasa senang (Shoimin, Aris, 2016: 184).
Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa yaitu dengan menggunakan model pembeljaran kooperatif Student Facilitator and Explaining (SFAE).
f.         Model Pembelajaran Konvensional
Model pembelajaran konvensional adalah salah satu model pembelajaran  yang dimana secara lisan atau penjelasan langsung kepada siswa. Model ini juga sering disebut sebagai model pembelajaran tradisional. Pembelajaran dengan  model ini diiringi dengan penjelasan serta pembagian tugas dan latihan, dimana  siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan dari guru di depan kelas dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran konvensional mempunyai ciri-ciri yaitu pembelajaran  berpusat pada guru, terjadi pembelajaran yang pasif atau bersifat satu arah, dan jumlah  siswanya juga relatif banyak.


Adapun sintaks pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut :
1)        Menyampaikan tujuan. 
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada  pelajaran tersebut.
2)        Menyajikan informasi. 
Guru menyajikan informasi kepada siswa secara tahap demi tahap dengan  metode ceramah.
3)        Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. 
Guru mengecek keberhasilan siswa dan memberikan umpa balik.
4)        Memberikan kesempatan latihan lanjutan. 
Guru memberikan tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah.
Kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran konvensional menurut Sanjaya  (2010: 148) antara lain :
1.        Kelebihan
a.         Dapat menampung kelas besar dan setiap siswa mempunyai kesempatan  yang sama untuk mendengarkan penjelasan guru.
b.        Kemampuan masing-masing siswa kurang mendapatkan perhatian, sehingga isi dari silabus dapat mudah diselesaikan.
c.         Bahan pelajaran dapat diberikan secara urut sesuai kurikulum.
2.        Kekurangan
a.         Materi yang dapat dikuasai siswa terbatas pada apa yang dikuasai guru.
b.        Sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa  yang dijelaskan atau belum.
c.         Membosankan bagi peserta.
d.        Kurang merangsang kreativitas dan sulit mengetahui apakah siswa mengerti atau tidak.         

Hasil Belajar Siswa dan Faktor yang mempengaruhinya


Hasil Belajar Siswa

a.        Belajar
Belajar adalah proses alami yang dapat membawa perubahan pada pengetahuan, tindakan dan perilaku seseorang (Subur: 1). Belajar merupakan proses aktif, yang dimaksud proses aktif di sini bukan hanya aktivitas yang nampak seperti gerakan badan, akan tetapi juga aktivitas- aktivitas mental seperti proses berfikir, mengingat dan lain sebagainya. Belajar merupakan sebuah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang terjadi ketika seseorang melakukan interaksi secara intensif dengan sumber-sumber belajar (Heinich dalam Subur, 2005: 1). Belajar adalah upaya merubah perfomansi yang tidak hanya terbatas pada aspek ketrampilan, tetapi juga meliputi fungsi-fungsi skill, persepsi, emosi, cara berpikir dan kecerdasan, sehingga menimbulkan performansi yang lebih baik (Degeng dalam Subur, 2015: 2). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang menyebabkan seseorang terjadi perubahan pada seseorang baik dari pengetahuan, tingkah laku, dan keterampilannya.
b.        Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004: 22). Dengan kata lain hasil belajar adalah kemampuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima pembelajaran yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Gagne dalam Subur (2015: 11) bahwa hasil belajar ada lima, yaitu :
1.      Informasi verbal: yaitu hasil belajar yang berupa kemampuan untuk menyediakan respon yang bersifat spesifik terhadap stimulus yang spesifik pula.
2.      Keterampilan motoric: yaitu kemampuan yang berupa tindakan fisik dan penggunaan otot untuk melakukan tindakan, kemampuan eksekusi atau pelaksanaan suatu tindakan untuk mencapai hasil tertentu.
3.      Sikap atau attitude : yaitu kondisi internal yang dapat mempengaruhi pilihan individu dalam melakukan suatu tindakan.
4.      Keterampilan intelektual: yaitu kemampuan dalam melakukan analisis dan modifikasi simbol-simbol kognitif atau informasi.
5.      Strategi Kognitif: yaitu kemampuan metakognitif yang diperlihatkan dalam bentuk kemampuan berpikir tentang proses berpikir dan belajar bagaimana belajar.
Menurut Subur (2015: 11) bahwa keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor baik yang bersifat internal maupun eksternal, teknis maupun nonteknis. beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran antara lain:
1.      Faktor guru
Dalam kultur pembelajaran di Indonesia, guru masih merupakan faktor dominan dan menentukan keberhasilan pembelajaran.

2.      Jumlah siswa
Semakin kecil jumlah siswa dalam kelas akan semakin membuat pembelajaran berkualitas, karena semakin tinggi dan intensitas interaksi edukatif yang terjadi antara siswa dan guru.
3.      Suasana kelas
Suasana kelas yang demokratif akan dapat memberi peluang lebih besar bagi terciptanya kondisi belajar yang efektif dan optimal dalam mencapai tujuan belajar.
4.      Fasilitas Pendukung
Tersedianya sarana pendukung terutama sumber belajar, bahan ajar dan media pembelajaran sangat membantu aktivitas dan efektifitas belajar siswa.
5.      Motivasi
Motivasi mampu mengatasi banyak hal yang menghambat keberhasilan belajar.
c.         Siswa
Siswa adalah komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu komponen pendidikan, siswa dapat ditinjau dari berbagai pendekatan, antara lai: pendekatan sosial, pendekatan psikologis, dan pendekatan edukatif atau pedagogis.
Siswa merupakan pelajar yang duduk dimeja belajar setrata Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA). Siswa-siswa tersebut belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan untuk mencapai pemahaman ilmu yang telah didapat dunia pendidikan. Siswa atau pesetra didik adalah mereka yang secara kh.usus diserahkan oleh kedua orang tuanya untuk mengikuti pembelajaran yang diselengarakan di sekolah, dengan tujuan untuk menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, berketrampilan, berpengalaman, berkepribadian, berakhlak mulia, dan mandiri.